Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2011

Sejarah permusuhan viking dan the jak mania


VS


Perseteruan antar suporter Persija dan Persib sudah berlangsung lama, tepatnya sejak tahun 2000 yaitu bertepatan dengan Liga Indonesia 6 berlangsung. Di putaran 1 sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus dan masuk ke Tribun Timur. Dan terdiri dari banyak.unit suporter seperti Balad Persib, Jurig, Stone Lovers, ABCD, Viking dll.

Saat itu yang terbesar masih Balad Persib. Meski sempat nyaris terjadi gesekan dengan the Jakmania, tapi alhamdulilah tidak terjadi bentrokan yang lebih luas. Justru kita suporter Persib bergerak ke arah the Jakmania tuk berjabat tangan. Gw inget banget yel-yel kita waktu itu : “ABCD … Anak Bandung Cinta Damai”. Selesai pertandingan suporter Persib juga didampingi the Jakmania menuju bus. Dan The Jakmania mengikuti dengan menyanyikan lagu Halo Halo Bandung.

Penerimaan the Jakmania membuat kita (Viking) berniat tuk mengundang datang ke Bandung saat putaran 2. Dialog berlangsung lancar karena seorang Pengurus the Jakmania yang bernama Erwan rajin ke Bandung tuk bikin kaos. Hubungan Erwan dengan Ayi Beutik juga konon akrab banget sampe2 Erwan pernah cerita kalo dia suka sama adiknya Ayi Beutik.

Melalui Erwan jugalah Viking menyatakan keinginannya tuk mengundang dan menyambut the Jakmania di Bandung meski kita sendiri masih khawatir dengan sikap bobotoh yang lain. The Jakmania saat itu belum sebesar sekarang. Yang nonton di Lebak Bulus aja cuma di sisi Selatan tribun Timur. Jadi bersebelahan dengan Viking. Nah ajakan Viking itu langsung ditanggapi oleh the Jakmania yg memang sudah punya niat jg tuk melakoni partai tandang.


Dibentuklah kemudian perencanaan, salah satunya dengan mengutus Sekum dan Bendahara Umum the Jakmania saat itu yaitu Sdr Faisal dan Sdr Danang. Mereka ditugaskan tuk melobi Panpel Persib dari mulai masalah tiket hingga tribun the Jakmania. Kebetulan Danang lagi kuliah di Bandung sehingga tempat kosnya jadi tempat kumpulnya the Jakers disana. Karena The Jakmania belum berpengalaman mengkoordinasikan anggota tuk nonton tandang. Justru yang menjadi masalah justru bukan di koordinator kepada Panpel Persib tapi di anggota The Jakmania itu sendiri.

Banyak anggota yang bandel daftar pada hari H nya. Jumlah yang tadinya cuma 400 orang berkembang menjadi 1000 orang lebih! Bayangin gimana repotnya Pengurus The Jakmania nyari bis tuk ngangkut segitu banyak orang. Akibatnya The Jakmania berangkat baru jam 12 siang! Itu juga terpecah menjadi 3 rombongan. Satu bis berangkat lebih dulu karena akan ganti ban. Disusul 4 bus kemudian. Dan terakhir berangkat dengan 4 bus tambahan.

Keberangkatan The Jakmania sendiri juga masih diliputi keraguan apakah dapat tiket atau tidak. Tim Advance yang diutus mendapatkan kesulitan mencari tiket. 4 hari sebelum pertandingan terjadi kerusuhan di stadion Siliwangi akibat distribusi tiket yang kurang lancar. Ada seorang Vikers yang menganjurkan the Jak tuk hadir di acara khusus pertemuan tim dengan suporternya. Faisal, Danang dan Budi ambil keputusan tuk hadir di acara itu. Disana mereka sempat bertemu Walikota Bandung, Kapolres, Ketua Panpel dan Ketua Keamanan.

Mereka semua menjamin bahwa the Jakmania akan bisa masuk dan tiket akan disiapkan khusus. Paling tidak itulah info yang gw dapet dari tim Advance The Jakmania. 1 bis pertama tiba di Stadion Siliwangi. Viking siap menyambut dan mempersilahkan masuk ke stadion, padahal tiket belum di tangan. Sayang hal yang dikhawatirkan Viking terbukti. Perlahan tapi makin lama makin banyak datanglah bobotoh nyamperin the Jak dengan sikap yang tidak simpatik. Melihat gelagat buruk ini Viking minta the Jak tuk keluar dulu ke stadion sambil menunggu rombongan berikut.

Sembari menunggu, gw dan beberapa rekan dari The Jakmania ada yang melaksanakan sholat ashar dulu. Ketika selesai sholat, mulailah terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Rekan2 kita dari the Jakmania mendapatkan pukulan disana sini dengan menggunakan kayu. Salah satunya tersungkur berlumuran darah yang keluar dari kepalanya. Melihat situasi ini the Jakmania kembali diungsikan menjauh dari stadion. Rombongan besar 8 buah bis akhirnya tiba juga. Tapi karena terlambat, stadion Siliwangi sudah penuh sesak. Lagipula kita tetap tidak berhasil mendapatkan tiket.

Panpel memang kelihatan salah tingkah dan berusaha mengumpulkan dari calo2 yang masih beredar di sekitar stadion, namun jumlahnya juga tidak memadai hanya 300 lembar.
Sementara bobotoh yang masih berada di luar juga mulai melakukan serangan terhadap the Jakmania. Gw sempet coba menenangkan dan cekcok dengan seorang rekan bobotoh yang ngambil dengan paksa kacamata anggota The Jakmania. Bobotoh itu bilang kalo dia kesal sama anak Jakarta karena mereka juga diperlakukan dengan tidak simpatik di Jakarta ketika menyaksikan pertandingan Persijatim vs Persib di Lebak Bulus.

Bobotoh tidak mau tau kalo Persijatim tu beda dengan Persija. Seingat gw kejadian ini sempat direkam foto oleh wartawan dari Tabloid GO dan terpampang jelas esoknya di media tersebut. Gw lalu ngambil inisiatif tuk nyari rombongan pertama the jakmania yang dateng duluan dan mengajak mereka tuk gabung ke rombongan besar.
Disana gw minta maaf ke semua anggota The Jakmania karena gagal membawa rombongan sampai masuk ke stadion dan pulang dengan aman. Di situ dari Panpel juga sempat minta maaf. Namun kondisi ini tidak bisa diterima oleh seluruh rombongan The Jakmania, bahkan mereka juga tidak mau berjabat tangan dengan gw dan 2 orang Viking lainnya yang masih setia mengawal meski pertandingan sudah berlangsung.

Ketika rombongan hendak pulang, tiba2 The Jakmania diserang lagi oleh bobotoh yang masih nunggu di luar stadion. Kondisi ini jelas tidak bisa diterima oleh The Jakmania. Sudah ga bisa masuk masih juga diserang. Akhirnya The Jakmania balas perlakuan mereka (Oknum Bobotoh).
Jumlah bobotoh di luar stadion masih ratusan sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan pecahnya kaca2 mobil akibat terkena lemparan dari kedua kubu. Ketika polisi datang, keributan mereda dan the Jakmania mulai beranjak pulang. Sempat pula terjadi bentrok beberapa kali ketika rombongan berpapasan dengan bobotoh yang pulang karena tidak kebagian tiket.

Sejak saat itulah api dendam dan permusuhan terus berkobar di kedua belah pihak. Puncaknya di acara Kuis Siapa Berani di Indosiar. Acara ini diprakarsai oleh Sigit Nugroho wartawan Bola yang terpilih menjadi Ketua Asosiasi Suporter Seluruh Indonesia. Sayang bentrokan ternyata ga bisa dihindari. Bukan gw memihak tapi faktanya memang Viking yang mulai.
Mereka neriakin yel2 “Jakarta Banjir” yang dibales juga oleh the Jak. Suasana memanas hingga akhirnya terjadi benturan fisik. Letak Indosiar di Jakarta, jadi ga heran pelan2 berdatanganlah para suporter Persija kesana. Suasana sudah tidak terkendali dan atas inisiatif Polisi dan Indosiar, Viking langsung diungsikan dengan menggunakan truk Polisi. Namun kejadian ini ternyata dah menyebar luas kemana-mana hingga akhirnya terjadilah penyerangan terhadap rombongan Viking di tol Kebon Jeruk.

Sumber : Kaskus.us


Sabtu, 21 Mei 2011

Putri El Loco Naksir Irfan Bachdim


Dipanggil kembalinya Irfan Bachdim ke Timnas Indonesia membuat gembira banyak fans Tanah Air. Termasuk di dalamnya Amanda, pesinetron Islam KTP yang merupakan putri dari Cristian El Loco Gonzales.

Amanda menyatakan, sangat berharap Irfan bisa kembali berduet di lapangan bersama ayahnya. Manda, panggilan akrab remaja 16 tahun itu, menilai tandem Irfan dan El Loco bisa mengulang kembali sukses seperti di Piala AFF 2010, meraih posisi runner-up.

Sebagai fans berat Irfan, Amanda mengaku sering kali beradu argumen dengan mamanya, Eva Siregar, mengenai siapa yang lebih hebat antara Gonzales dan Irfan. Walaupun mamanya sudah membeberkan bukti bahwa Gonzales sudah lebih banyak menorehkan prestasi di lapangan hijau, Amanda kadung “naksir” dengan Irfan.

“He is so cute dan keren,” tutur Amanda. Bahkan status Irfan yang sudah pacaran dengan Jennifer Kurniawan tidak menghalangi perasaannya. “Mereka kan masih pacaran. Selama belum menikah segalanya bisa berubah,” imbuhnya.

Amanda mengatakan, dirinya punya nilai lebih dibanding Jennifer. “Saya tidak akan mengobral tubuh. Bagi saya, kepribadian lebih penting daripada body,” katanya lagi. Amanda mengaku sering berkomunikasi dengan Irfan melalui situs jejaring sosial Twitter. Amanda juga berharap Irfan bisa bermain bersamanya di sinetron Islam KTP.

Sumber : liputan6.com


Yudo Hadianto Penjaga Gawang Legenda Indonesia


Tim sepakbola Indonesia pernah punya seorang penjaga gawang yang disebut-sebut terbaik di kawasan Asia. Bersama Yudo Hadianto, Tim Merah Putih disegani pada era 1960 sampai 1970-an. Kendati kini hanya bisa melihat Piala Dunia 2006 dari layar kaca, semangat Yudo untuk kemajuan sepakbola Tanah Air tak lekang. Di usia senjanya, dia masih aktif melatih di Sekolah Sepak Bola Soetjipto Soentoro yang didirikannya bersama Bisma, anak almarhum pemain bola Soetjipto Soentoro.

Dibesarkan dalam keluarga yang gemar sepakbola, Yudo kecil tertarik pada olahraga populer ini sejak belia. Sampai pada akhirnya, Endang Witarsa yang saat itu melatih tim nasional tertarik melihat permainannya dan mengajak Yudo hijrah ke Jakarta. Padahal saat itu Yudo masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Selama beberapa bulan, Yudo harus puas duduk sebagai kiper cadangan di kesebelasan UMS. Namun kejelian Yudo mengantisipasi pergerakan bola dan ketenangannya di lapangan hijau membuat dia terpilih sebagai kiper utama. Akhirnya, pada 1961 Yudo ditarik ke tim nasional. Saat itu umurnya baru menginjak 20 tahun. "Akhirnya Tony Pogaknik menarik saya menjadi pemain timnas," kata pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 19 September 1941.

Saat Yudo bertugas di bawah mistar gawang Merah Putih, timnas disegani lawan. Sejumlah kesebelasan asing yang datang ke Indonesia merasakan kokohnya benteng terakhir kesebelasan Indonesia. Di antaranya adalah Dynamo Moskwa yang hanya menang 1-0 saat bertandang ke Senayan. Tapi kenangan terindah bagi Yudo adalah saat menjajal kemampuan tim Rusia yang diperkuat kiper legendaris Lev Yashin.

Seiring usia, kemampuan kiper bertubuh jangkung-kurus itu memudar hingga akhirnya pensiun dan bekerja di Pertamina atas jasa almarhum Sjarnoebi Said. Tetapi kecintaan suami Veronica Tarek da Costa kepada sepakbola tak luntur begitu saja. Termasuk dengan keprihatinannya dengan kondisi sepakbola Indonesia yang terpuruk. Menurut dia, kurangnya kedisiplinan dalam pembinaan pemain menjadi salah satu penyebab Indonesia tak lagi bisa unjuk gigi. Jangankan di tingkat dunia seperti Piala Dunia 2006, untuk tingkat Asia Tenggara saja Indonesia keteteran. Tetapi dia yakin, suatu hari nanti Indonesia mampu berlaga di kancah internasional. Semoga.

Sumber : liputan6.com


Jumat, 20 Mei 2011

Kurniawan Dwi Yulianto Striker Legenda Indonesia








Kurniawan Dwi Yulianto dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 34 tahun silam. Ia adalah salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Karir gemilang Kurniawan dimulai pada saat dirinya menjadi salah satu pemain Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program Primavera, yakni pengiriman pemain untuk menimba ilmu di Eropa. Kurniawan muda terpilih untuk masuk ke klub elit Italia, Sampdoria pada tahun 1993 silam. Saat itu dirinya berusia 17 tahun.

Aksinya sempat memukau petinggi Sampdoria kala itu, sehingga dirinya menjadi salah satu pemain yang diikutsertakan dalam tur keliling Eropa klub tersebut. Bahkan pemain yang juga akrab disapa ‘kurus’ ini mencetak gol spektakuler saat Sampdoria dijamu klub Slovakia, Slavian Bratislava. Pada saat itu, Sampdoria diperkuat pemain-pemain kelas dunia seperti Roberto Mancini dan David Platt. Kurus menimba ilmunya bersama para bintang sepakbola ini selama 1 tahun.


Kurus semasa membela Sampdoria

Pada tahun 1994, karena bermasalah dengan PSSI, dirinya pindah ke klub papan atas liga Swiss, Luzern FC. Di klub tersebut, Kurus sempat menjadi pilihan utama, namun hasilnya kurang maksimal. Ia hanya mencetak 1 gol dari 10 pertandingan. Akhirnya pada tahun 1996, Kurus kembali ke tanah kelahirannya, Indonesia. Selama 7 tahun, dirinya sempat malang melintang di sejumlah klub, mulai dari Pelita Jaya, PSM Makassar, PSPS Pekanbaru, Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta. Kurus sempat membawa PSM Makassar juara liga dan menjadi top skorer. Juga hampir membawa Pelita Jaya menjadi kampiun sebelum liga dibubarkan karena Reformasi.

Pada akhir tahun 2005, Kurus menandatangani kontrak dengan klub Malaysia, Sarawak FC. Namun hanya setengah musim ia bertahan disana. Kurus gagal menunjukkan ketajamannya di negeri jiran. Pada bulan Mei 2006, ia kembali ke Indonesia. Kembali Kurus berpetualang dari satu klub ke klub lain. Hingga akhirnya pada musim 2010 ia berlabuh di PSMS Medan.

Karir dan prestasi gemilang Kurniawan sempat meredup karena tindakan negatif. Ia pernah tersandung kasus pemakaian narkoba pada tahun 1999. Namun ia berhasil bangkit dari keterpurukan dan kembali mencapai performa puncaknya. Sinar cemerlang Kurniawan di klub yang dibelanya membawanya terpanggil ke timnas Indonesia. Ia membela Merah Putih sejak tahun 1995 hingga 2006, dengan torehan 33 gol. Ia pun mencetak rekor sebagai pemain dengan gol terbanyak di tingkat timnas, hingga digeser oleh juniornya, Bambang Pamungkas. Aksi terakhirnya di timnas pada saat Semifinal Piala Tiger 2006 sangat berkesan. Kurus yang masuk sebagai pemain pengganti menjadi dirigen serangan Indonesia bersama Boaz, Ilham & Elly Aiboy. Di Stadion Bukit Jalil, Malaysia dibantai 4-1.

Kurniawan alias Kurus adalah tipikal striker oportunis. Ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan di kotak 16 meter. Kelincahan dan kecerdikannya membuat lawan yang mengawalnya kerap kepayahan. Kurus pun hingga sekarang masih menyandang predikat sebagai striker paling berbahaya yang pernah dimiliki Indonesia. Bahkan hal tersebut diakui oleh juniornya yang kini menjadi kapten timnas, Bambang Pamungkas.

Namun kecemerlangan Kurniawan di lapangan berbanding terbalik dengan sikapnya di luar lapangan. Ia dikenal sebagai sosok bad boy yang suka melanggar aturan. Dunia malam pun pernah disambanginya selama masih aktif bermain. Pada akhirnya, berkat bantuan orang-orang terdekatnya. Kurus berhasil meninggalkan semua kemaksiatan itu. Tapi watak memang sulit diubah. Kurus kerap bersitegang dengan pelatih klub yang dibelanya. Sebagai contoh, ketika membela Persisam Samarinda pada tahun 2008, ia dipecat karena tindakan indisipliner.


Kini, Kurniawan memang sudah tidak lagi terpilih menjadi anggota timnas Indonesia. Namun ia masih aktif bermain. Pada musim 2010 ISL, ia membela klub papan atas PSMS Medan. Semakin tua, Kurus mengaku dirinya semakin belajar untuk bijak. Ia kini hanya ingin fokus bermain hingga saatnya untuk gantung sepatu tiba.

Diluar sisi negatifnya, Kurus akan tetap menginspirasi para penerusnya untuk menjadi bintang dan legenda sepakbola Indonesia selanjutnya.

Biodata

Nama lengkap : Kurniawan Dwi Yulianto

Nama panggilan : Ade, Kurus

Tempat / tanggal lahir : Magelang, Jawa Tengah / 13 Juli 1976

Posisi : Striker

Status : Menikah (Istri : Kartika Dewi)


Karir Klub

1993-1994 : Sampdoria Primavera (Italia)

1994-1995 : FC Luzern (Swiss)

1996-1999 : Pelita Jaya

1999-2001 : PSM Makassar

2001 : PSPS Pekanbaru

2002-2003 : PSPS Pekanbaru

2004 : Persebaya Surabaya

2005 : Persija Jakarta

2006 : Sarawak FC (Malaysia)

2006 : PSS Sleman

2007 : Persitara

2008-2009 : Persisam Samarinda

2009- 2010: Persela Lamongan

2010-2011 : PSMS Medan

2011 -.... : Tanggerang wolves (LPI)

Timnas

1995-2006 : Indonesia

Sumber : Kaskus .us


Iswadi Idris Legenda Sepakbola Indonesia






Iswadi Idris , yang lahir di Banda Aceh, 18 Maret 1948, menghabiskan hidupnya untuk sepak bola. Ketika berusia sembilan tahun, Iswadi sudah bergabung dengan klub Merdeka Boys Football Association Jakarta. Sampai akhir hayatnya pun, ia masih duduk sebagai manajer teknik Badan Tim Nasional Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Banyak hal yang membuat dia patut dikenang. Pemain yang selalu memilih kaus bernomor 13 baik di tim nasional maupun klub ini merupakan gelandang kanan dengan inteligensi tinggi bahkan jenius, berkarakter, dan berdisiplin tinggi. Ia bisa mengatasi tinggi badannya yang hanya 163 sentimeter—sehingga ia dijuluki si Boncel—dengan gerakannya yang mematikan lawan dan tendangan kerasnya dalam mencetak gol.

Sebagai sesama pemain nasional di era 1970 sampai 1980-an, seluruh teman-temannya merasakan karisma kepemimpinannya. Sebagai kapten, di tim nasional, Jayakarta, atau Persija, dia sangat disegani, baik di dalam maupun di luar lapangan, karena sifat tegas dan mengayomi anak buah.


Beberapa kali Timnas menjuarai turnamen di tingkat klub ataupun saat memperkuat tim nasional di dalam dan luar negeri. Dia berperan besar mengantar Indonesia menjadi tim yang disegani. Tim Merah-Putih pernah menjuarai Merdeka Games di hadapan publik tuan rumah Malaysia. Kami juga membawa pulang trofi Piala Raja dari kandangnya, Thailand.

Pada saat itu timnas sering melanglang buana, termasuk ke Eropa, pada 1974 dan 1976. Dan kenyataannya masa itu, tim nasional sangat ditakuti di Asia. Itu sebabnya, Iswadi dkk sering bermain dengan klub terkenal seperti Santos (Brasil), Cruzeiro (Brasil), Benfica(Portugal), Espanyol (Spanyol), Atletico Madrid (Spanyol), dan juga Manchester United (Inggris).

Prestasi terbaik Indonesia adalah pada 1976 di ajang pra-Olimpiade Montreal. Selangkah lagi tim Merah-Putih bakal berlaga di pesta olahraga dunia itu. Pertandingan berakhir seri sehingga harus adu penalti. Iswadi sebagai kapten melihat kaki Risdianto gemetar ketika akan mengeksekusi tendangan penalti keempat.



Ia kemudian menunjuk Anjas Asmara. Meski engkel kaki bengkak, ia tetap pada putusannya. Sayang tendangan Anjas gagal sehingga Timnas pun kalah 3-4. Tentu semua terpukul, tapi Iswadi tampak tabah dan sambil memeluk sahabatnya Anjas Asmara ia mengatakan, ”Jangan putus asa, masa depanmu masih panjang. Kegagalan itu merupakan kehendak Yang Mahakuasa.”

Kesetiakawanannya patut diteladankan. Pernah ketika ia memperkuat Persija melawan Persatuan Sepak Bola Medan dan Sekitarnya (PSMS), Nobon mencederai Anjas Asmara. Pada saat itu juga, Iswadi dengan gaya kungfunya memukul wajah Nobon karena ia tahu persis bintang Medan ini dibesarkan oleh orang tua saya. Bukan hanya sekali ia memukul lawan untuk membela kawan. Risdianto, mantan pemain nasional lain, juga pernah dibelanya.

Tidak selalu hubungan Iswadi dengan sesama pemain bola berlangsung mulus. Sebagai pemain lama di Jayakarta, Anjas Asmara, Andi Lala, dan Sofyan Hadi pernah berang kepada Iswadi dan Sultan Harhara, yang masuk belakangan tapi mendapat fasilitas lebih baik. Sebagai protes, mereka sepakat bersama-sama keluar sehingga prestasi Jayakarta terus merosot.



Isu suap pernah menghampiri Iswadi ketika Indonesia dikalahkan Hong Kong di pra-Piala Dunia 1978. Saya tentu tidak percaya Iswadi bisa disuap, tapi memang kekalahan itu sangat janggal karena biasanya kami bisa mengalahkan mereka 5-0. Tapi tuduhan itu tidak pernah terbukti.

Iswadi memiliki kebiasaan unik: muntah sebelum bertanding. Bisa jadi dia stres. Tapi, begitu bisa mengeluarkan isi perut, ia bisa bermain bagus dan lebih fit. Untuk menghilangkan ketegangan sebelum bertanding, ia biasa membaca komik Kho Ping Ho sambil tiduran dan mengangkat kakinya ke tembok.

Lain lagi cerita Yudo Hadianto, pemain yang di antara teman dekatnya disapa ”Papi”.”Di lapangan, kalau tidak ribut, itu bukan Iswadi. Namun, ributnya dia itu bertanggung jawab. Dia tidak pernah lari dari tanggung jawab,” ujar Papi yang selama tujuh tahun bermain bersama Iswadi, di Persija, Pardedetex Medan, dan timnas pada tahun 1970-an.

”Saya masih ingat ketika kami bermain di Bangkok, Thailand, dalam Piala Raja tahun 1968. Iswadi bersama-sama dengan Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, dan Waskito disebut sebagai ’The Rocket Stars from Asia’. Ini karena kecepatan dan kelincahan mereka,” lanjut Papi.

Adapun rekan Iswadi yang lain, Djunaidi Abdilah, berkomentar. ”Dia itu pemain besar yang patut dikenang generasi sekarang.”

Ya, Iswadi memang seorang pemain sepak bola andal. Hampir semua posisi, mulai dari bek, libero, penyerang sayap, dan gelandang pernah dilakoninya.

”Yang hebat dari Is, dan patut saya acungi jempol. Meski terkadang dia kurang mendapat simpati penonton, di lapangan Is selalu memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang pemain sepak bola berkelas.”

”Dia tidak pernah bermain dengan setengah hati. Itu yang membuat dia merupakan salah satu pemain besar yang tidak pernah dilupakan pencinta sepak bola di Tanah Air. Penonton yang tadinya antipati kepadanya akhirnya berbalik memujinya,” tutur Risdianto.
Banyak rekan seangkatannya di klub ataupun tim nasional yang mungkin sependapat dengan saya tentang pribadi Bang Is. Dia tidak memiliki rasa humor yang tinggi. Namun, di balik sikapnya yang tegas dan keras itu sebetulnya terkandung sikap yang sangat kuat dalam kesetiakawanan.

Kini Cita-cita Seorang Iwadi Idris untuk hidup demi sepak bola tercapai sudah. Bahkan pada saat akhir hayatnya sebelum stroke, ia masih bertugas memantau pemain tim nasional di bawah 16 tahun berlatih di Senayan, Jakarta. Selamat jalan, Bang Is.


DATA ISWADI IDRIS:

Nama lengkap: Iswadi Idris
Julukan: Boncel, Bos
Lahir: Banda Aceh (Indonesia), 18 Maret 1948
Posisi: Gelandang/bek kanan
No. Kostum: 13
Karier klub: MBFA (1957-1961), IM Jakarta (1961-1968, 1970-1974), Pardedetex (1968-1970), Western Suburb Australia (1974-1975), Jayakarta (1975-1981), Persija (1966-1980)
Karier timnas: 1968-1980
Prestasi: Juara TIM Cup (1968), Merdeka Games (1969), Pesta Sukan (1972), Anniversary Cup (1972), Pemain Terbaik Piala Marahalim 1973.


Rabu, 18 Mei 2011

Ferdinand Ingin Liburan Di Indonesia


Manchester United belum merencanakan tur ke Indonesia lagi setelah tragedi bom Kuningan beberapa waktu lalu. Namun demikian, salah satu punggawa mereka sudah merencanakan untuk hadir di Indonesia musim panas mendatang.

Adalah Rio Ferdinand yang merencanakan hadir ke Indonesia saat jeda kompetisi musim panas untuk berlibur.

"Saya tak tahu kemana tim saya akan bepergian untuk tur musim panas kami, tapi saya mungkin akan ke Indonesia untuk berlibur," demikian Ferdinand menyampaikan niatnya di akun Twitter-nya, @rioferdy5, hari ini.

Indonesia sepertinya memiliki kesan tersendiri bagi Ferdinand. Sebelumnya dia juga sudah beberapa kali mengomentari lewat akun Twitter-nya mengenai apa yang terjadi di Indonesia, termasuk perjuangan timnas di Piala AFF 2010.

Sampai ketemu di Indonesia, Ferdy!

Sumber : Goal.com


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More