Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2011

Cetak Gol Ke Gawang Fiorentina, Batistuta Menangis


Gabriel Omar Batistuta merupakan legenda di Fiorentina. Sembilan musim membela La Viola, ia mencetak 209 gol dalam 325 pertandingan di semua ajang. Pada tahun 2000, ia memutuskan pindah ke klub ibukota, AS Roma, demi mencapai satu hal yang terus menjadi impiannya: trofi scudetto. Menyadari jika dirinya semakin tua (saat itu berusia 31 tahun) dan Fiorentina sulit bersaing untuk juara, Batigol pun hengkang dengan bandrol 70 miliar lira, atau sekitar 23,5 juta pounds, sebuah nilai yang sangat tinggi untuk seorang pemain berusia di atas 30 tahun….. Lagipula itu tahun 2000. Kepindahan Batistuta juga untuk membantu keuangan klub yang saat itu sedang terancam bangkrut.

Dan kepindahan itu membuatnya harus berhadapan dengan mantan klubnya tersebut di kompetisi Serie A. Uniknya, pertandingan yang emosional tersebut langsung terjadi pada giornata kedelapan, tak seberapa lama setelah ia pindah. Dan di pertandingan itu, Batistuta tak bisa menahan perasaannya.

Ia mencetak gol lewat tendangan voli yang luar biasa indah dari luar kotak penalti. Francesco Toldo pun tak mampu menghentikannya. Gol. Semua orang di Stadion Olimpico bersorak, semua pemain Roma mengerubunginya, tetapi Batistuta hanya diam saja. Rupanya, ia menangis setelah mencetak gol tersebut, dan enggan merayakannya.

Setelah pertandingan berakhir, Batigol lagi-lagi tak mampu menahan tangisnya ketika ia mengucapkan salam kepada sekitar 3000 pendukung La Viola yang datang bertandang ke Olimpico.

Sebuah bukti profesionalisme seorang Batistuta, meski ia tak mampu menahan sisi emosionalnya. Salut.



Sumber : supersoccer.co.id


Senin, 13 Juni 2011

10 Momen abadi di Piala Dunia



10. Brasil vs Polandia, France 1938
Orang Brasil yang mencetak gol tanpa memakai sepatu




9. Italia vs Amerika Serikat, Italia 1934
Wasit memberikan hormat ala Nazi



8. Brasil vs Swedia, Swedia 1958
Pele menandakan kehadirannya



7. Korea Selatan vs Italia, Korea & Jepang 2002
Korea mengejutkan Italia...lagi



6. Kolombia vs Amerika Serikat, USA 1994
Gol bunuh diri Escobar



5. Inggris vs Argentina, France 1998
Tendangan Beckham



4.Italia vs Brasil, USA 1994
Baggio menendang balon ke udara



3. Belanda vs Jerman, Italia 1990
Ludah Rijkaard kepada Voller



2. Perancis vs Italia, Jerman 2006
Sundulan Zidane



1. Inggris vs Argentina, Meksiko 1986
Gol Tangan Tuhan


Sumber : klikunic.com


Rabu, 25 Mei 2011

Abidal: Messi Itu Pemain Dari Planet Lain


Jelang beberapa hari sebelum Final Liga Champions di kota London, Eric Abidal salah satu bek Barcelona memuji tinggi rekan satu timnya yang kini menjadi top skor sementara Liga Champions, siapa lagi kalau bukan Lionel Messi.

Bagi bek yang baru sembuh pasca menjalani operasi liver tersebut menilai sosok El Pulga ibarat alien di dunia ini, menurut Abidal bocah Argentina tersebut seperti berasal dari planet lain dengan kemampuan mempesonanya tersebut.

Kepada UEFA.com, bek asal Prancis tersebut membuka cerita, "Masalah dengan Messi adalah tidak satu pun bisa tahu apa yang bakal ia lakukan, dia seperti dari planet lain, dia bisa melakukan apa pun, dia membuktikannya dalam usainya yang masih begitu muda,"

"Dia sudah pasti akan masih memiliki tahun panjang ke depannya, saya pun berharap ia bakal bisa meraih trofi Ballon d'Or melebihi siapa pun dengan talentanya itu,"

"Kami menyaksikan sendiri kehebatannya ketika melawan Real Madrid di babak Semifinal lalu, dalam kedudukan 1-0 ia melewati empat bek mereka untuk menambah gol kemudian,"

UEFA.com juga menyodori pertanyaan lucu kepada Abidal, terkait apa kiranya resep jitu mematikan rekan satu timnya tersebut, namun Abidal menolaknya sembari tersenyum.

"Itu jelas menjadi rahasia kami, jika saya jawab pertanyaan tersebut, maka hal itu akan menyebar kepada seluruh lawan-lawan kami pastinya," pungkas sang bek kiri tersebut.

Sumber : Bola.net


Senin, 23 Mei 2011

10 striker terbaik sepanjang masa







10. Roberto Baggio


Sayangnya, Baggio lebih diingat dengan kegagalannya mengeksekusi tendangan dari titik putih sehingga Italia kalah adu penalti melawan Brasil di final Piala Dunia 1994. Tapi, tanpa penampilan Baggio yang gemilang sepanjang turnamen itu, Azzurri tak mungkin mencapai final. Ia menjadi anak emas sepakbola Italia sejak bergabung dengan Fiorentina pada 1985, sebelum rekor transfernya ke Juventus menjelang Piala Dunia 1990. Dikenal dengan sebutan “The Divine Ponytail” karena rambut kuncir dan ketaatannya menjalankan agama Budha, Baggio meraih scudetto dua kali – bersama Juventus pada 1994/95, dan AC Milan pada musim berikutnya. Pemain Terbaik Dunia versi FIFA pada 1993.


9. Alessandro Del Piero


Juventus forever, per sempre, selamanya! Itulah si Pinturicchio yang sudah lima kali scudetto bersama Bianconeri dan menjadi ikon klubnya dengan 500 penampilan lebih. Sama halnya dengan Batigol, ia pun menolak keluar dari klubnya yang degradasi pada 2006 akibat kasus Calciopoli. Titel U-21 Eropa pada 1994 dan 1996 disandangnya, ditambah lagi gelar juara Piala Dunia 2006. Loyalitas adalah emas!

8. Marco van Basten


Torehan 218 gol dari 280 penampilan bersama Ajax dan AC Milan bukan prestasi yang mudah diraih. Ia juga mengoleksi hattrick gelar pada 1992 – Pemain Terbaik Dunia versi FIFA, Pemain Terbaik Eropa, dan Pemain Terbaik Dunia. Marco van Basten menjadi pemain yang sukses mengikuti jejak Johan Cruyff, sekaligus memimpin Belanda juara Eropa untuk pertama kalinya pada 1988. Bersama AC Milan, ia meraih Piala Eropa pada 1989 dan 1990. Sayangnya, cedera pergelangan kaki memaksanya pensiun lebih dini. Meski demikian, Van Basten tetap berkiprah dalam dunia sepakbola. Ia melatih timnas Belanda pada 2004-08.


7. Ronaldo (Ronaldo Luiz Nazario da Lima)


Sang fenomena sudah dua kali meraih hattrick gelar Pemain Terbaik FIFA, Eropa dan Dunia. Nama Ronaldo mulai bangkit ketika melesatkan 58 gol dalam 60 pertandingan di awal karirnya bersama Cruzeiro pada. Setelah dua musim yang gemilang bersama PSV Eindhoven, ia bergabung dengan Barcelona pada 1996 dan membukukan 34 gol dalam 37 laga untuk menjadi topskor. Bersama Inter Milan, Ronaldo ‘mengejek’ gaya pertahanan klub Italia lainnya. Alhasil, 25 gol dikemasnya, sekaligus membawa Inter juara Piala UEFA – semuanya dalam musim pertamanya. Ia juga meraih topskor pada dua musim pertamanya bersama Real Madrid. Duka kekalahan 3-0 dari Prancis pada final Piala Dunia 1998 terhapus, ketika Ronaldo membawa Brasil juara Piala Dunia berikutnya. Ia menjadi topskor dengan 8 gol, dan dua di antaranya dicetak di final melawan Jerman.


6. Bobby Charlton (Sir Robert Charlton)


Inilah salah satu pemain terbaik Inggris sepanjang masa. Bobby Charlton meraih 106 caps dan 49 gol bersama timnas Inggris. Sebagai bagian dari “Busby Babes” yang selamat dari tragedi Munich 1958, Charlton sepuluh tahun kemudian membawa Manchester United menjadi klub pertama Inggris yang juara Piala Eropa. Charlton juga membantu tuan rumah Inggris meraih Piala Dunia 1966. Perlawanan Charlton kontra Eusebio di semifinal melawan Portugal dikenang sebagai pertandingan terbaik Inggris sepanjang masa.


5. Alfredo Di Stefano



Ketika membela Real Madrid, Di Stefano mengoleksi delapan titel Liga Spanyol dan memenangkan lima edisi pertama Piala Eropa. Ia juga melesatkan gol dalam setiap pertandingan final. Kepemimpinannya di lapangan ditambah skill menakjubkan membuat Di Stefano menjadi faktor utama Real Madrid mendominasi Eropa pada akhir 1950-an. Namun, Di Stefano gagal di tingkat internasional. Ia pernah memperkuat timnas Argentina, Kolombia dan Spanyol, tapi tak satupun gelar Piala Dunia direbut. Ia selalu dikenang ketika menciptakan hattrick saat Real Madrid membantai Frankfurt 7-4 untuk mengangkat trofi Piala Eropa kelima kalinya beruntun.


4. Ferenc Puskas


Inilah striker yang kualitasnya akan sulit ditemui lagi di Hongaria. Bersama timnas, ia mencatat rekor 84 gol dari 85 caps. Tubuhnya pendek, dadanya rata, tapi kekuatannya terletak pada kaki kirinya yang mampu melepaskan tembakan secepat kilat. Setelah meraih medali emas Olimpiade 1952 sekaligus mengakhiri dominasi Inggris di Eropa, timnas Hongaria menjadi favorit juara Piala Dunia 1954. Tim berjuluk “Mighty Magyars” melesakkan 17 gol dalam babak grup sebelum menyingkirkan Brasil dan Uruguay. Meskipun cedera berat, Puskas memaksakan dirinya tampil di final, bahkan mencetak gol sebelum kalah secara menyakitkan oleh Jerman Barat.


3. Eusebio (Eusebio da Silva Ferreira)


Pemenang Sepatu Emas di Piala Dunia 1966 ini mencetak sembilan gol buat Portugal sebelum tersingkir di semi-final oleh tuan rumah Inggris, yang kemudian keluar sebagai juara. Eusebio menjadi pemain Afrika pertama (kelahiran Mozambique) sehingga dikenal sebagai “Pele versi Eropa” – dan hingga kini masih dinobatkan sebagai pemain terbaik Portugal sepanjang masa. Dari Benfica hingga Sporting Lisbon, nama Eusebio bersinar di usia 19, ketika mencetak hat-trick ke gawang Santos (yang kala itu diperkuat Pele) pada Turnamen Paris 1961. Eusebio menjadi topskor Liga Portugal tujuh kali dan meraih Pemain Terbaik Eropa pada 1965. Dua golnya ke gawang Real Madrid membantu Benfica meraih Piala Eropa untuk kedua kalinya pada 1962. Sayangnya, ia cedera lutut dan terpaksa gantung sepatu pada umur 32 tahun. Ia menorehkan 41 gol dari 64 caps internasional.


2. Johan Cruyff


Inilah master of total football. Kapten Cruyff memimpin Belanda di Piala Dunia 1974, dengan mencetak dua gol baik ke gawang Argentina maupun Brasil, sebelum dikalahkan Franz Beckenbauer dan Jerman Barat di partai puncak. Johan Cruyff merupakan nama paling terkenal dalam sejarah sepakbola Belanda. Ia menjadi pemeran utama dalam dominasi Ajax di kancah Eropa pada era 1970-an. Ia mendominasi Belanda dengan delapan titel domestik bersama Ajax ditambah satu lagi di Feyenoord. Tiga gelar Piala Eropa berturut-turut diraih pada 1970 hingga 1973 sebelum hijrah ke Barcelona. Ia pensiun menjelang Piala Dunia 1978, dan selanjutnya sukses melatih dua bekas klubnya.


1. Pele (Edson Arantes do Nascimento)


Pada usia 17 tahun, Pele memborong enam gol di Piala Dunia 1958, dan menjadi sumber inspirasi Brasil meraih titel pertamanya. Karirnya penuh dengan prestasi, di dalam maupun luar lapangan, dan saat ini menjadi duta besar sepakbola. Angka-angkanya: 470 gol dalam 412 penampilan bersama Santos, dan 77 gol dari 92 caps di timnas Brasil. Tiga kali juara Piala Dunia, sepuluh titel Campeonato Paulista, dua Copa Libertadores. Butuh penjelasan apa lagi?

Sumber : http://haxims.blogspot.com


Minggu, 22 Mei 2011

Legenda No 7 Manchester United


Dalam club Manchester United, No. 7 dijadikan no sakral club ini. Hanya pemain yang berkualitas dan hebat lah yang boleh memakai No. punggung 7. Bahkan ada mitos mengatakan bahwa Manchester United tidak akan sukses tanpa ada pemain yang memakai No. 7. Saat ini No. 7 Tersebut dipakai oleh Michael Owen. Ini dia beberapa Legenda Manchester United yang memakai No. 7

1. George Best



Pemain asal Irlandia Utara ini adalah pemain pertama yang memakai No.7 saat No. 7 dianggap sakral. No. 7 diberikan kepada George Best karena ia memiliki kemampuan yang hebat. Sejak usia dini, ia telah menjadi skuad initi United. Bahkan ia disebut-sebut sebagai 3 pemain terbaik dunia bersama Pele dan Maradona. Sayang dia pensuin muda pada umur 29 tahun karena ketergantungan pada alkohol.


2. Bryan Robson


Bryan Robson adalah salah satu pemain hebat United. Ia membuktikannya dengan membawa United merebut banyak gelar seperti Premier League (2 kali), FA Cup (3 kali), Carling Cup (1 kali), Community Shield (3 kali). Dia juga menjadi kapten terlama Manchester United dengan jabatan selama 12 tahun. Sekarang ia berkarir sebagai pelatih dan melatih Thailand.


3. Eric Cantona


Eric Cantona adalah kapten pertama Manchester United yang pensiun di Manchester United. Ia terkenal dengan tendangan Kung-Fu nya yang mematikan. Cantona telah mempersembahkan 4 kali Premier League, 2 kali FA Cup, 3 kali Community Shield. Tetapi anehnya dia tidak pernah ikut dalam ajang Piala Dunia. Selain menjadi pemain sepak bola, ia juga menjadi seorang aktor.


4. David Beckham



David Beckham adalah salah satu legenda No. 7 United. Ia terkenal dengan tendangan bebas melengkungnya dan gocekan mautnya. Ia pun juga telah menjadi skuad senior Manchester United pada usia 19 tahun. Pada tahun 2002, ia berselisih dengan pelatih Sir Alex Ferguson yang membuatnya hengkang dari Manchester United ke Real Madrid pada tahun 2003. Selain itu, ia juga terkenal berbagai macam kasus kontroversial.


5. Cristiano Ronaldo


Sepeninggal David Beckham ke Real Madrid, No. 7 langsung diberi kepada Cristiano Ronaldo yang masih berstatus pemain baru United. Tapi ternyata kepercayaan Sir Alex Ferguson kepada Cristiano Ronaldo tidak berlebihan karena Ronaldo dapat membuktikannya dengan penampilan bagus. Pada puncak karirnya pada tahun 2008, ia membawa Manchester United Treable Winner dan menjadi Top Skor premier league. Pada tahun itu dia membuat total 42 gol bagi United.


6. Michael Owen



Beda dengan pemain-pemain lain yang memakai No. 7 di Manchester United, saat No. ini dipakai oleh Owen, United kurang sukses. Mungkin karena Michael Owen telah melewati masa jayanya yang dulu saat bersama Liverpool. Ia pun sering dicadangkan oleh pelatih. Tetapi Sir Alex Ferguson memberikan No. 7 kepada Owen karena ada mitos bahwa Manchester United akan sukses bila ada yang memakai No. 7.

Sumber : soccer-blogg.blogspot.com


CR7 Sabet El Pichichi dan Pecahkan Rekor Gol La Liga


Cristiano Ronaldo Cetak Sejarah Gol Real Madrid Sepanjang Masa. Cristiano Ronaldo CR7 Memang Sangat Fenomenal! Cristiano Ronaldo sepertinya memang pantas dijuluki Tuan Oktober dan menilai dirinya sendiri sedang fenomenal. Bagaimana tidak, ia kini sudah menorehkan rekor baru di Real Madrid.

Ronaldo saat ini sedang "on-fire". Gol demi gol sudah ia lesakkan ke dalam gawang lawan-lawan Madrid dalam sejumlah pertandingan belakangan.

Terakhir, pemain Portugal berusia 25 tahun tersebut menyumbang sepasang gol dalam kemenangan 3-1 El Real atas Hercules dalam lanjutan pertandingan La Liga Primera pada akhir pekan lalu.

Tambahan dua gol tersebut membuat Ronaldo sudah genap mengoleksi sepuluh gol dalam empat partai beruntun Madrid di Liga. Ialah pemain pertama Madrid yang mampu melakukannya, seperti dicatat dalam situs klub tersebut.

Ronaldo mengawali rentetan dalam empat laga itu dengan membuat dua gol atas Deportivo La Coruna, disusul dua gol lagi ke gawang Malaga. Racing Santander menjadi lumbung gol dengan empat gol darinya, sebelum Ronaldo menambah dua gol lagi ke gawang Hercules.

Setelah menjadi pemain pertama Real Madrid yang bikin sepuluh gol dalam empat partai beruntun, Ronaldo kini akan mengejar rekor Ferenc Puskas yang selalu mencetak gol dalam tujuh pertandingan beruntun Madrid di liga, dengan total 13 gol.

Berikut ini sejarah gol yang dicetak pemain Real Madrid termasuk Cristiano Ronaldo dalam empat partai beruntun Liga Spanyol sepanjang masa:


Sabtu, 21 Mei 2011

Yudo Hadianto Penjaga Gawang Legenda Indonesia


Tim sepakbola Indonesia pernah punya seorang penjaga gawang yang disebut-sebut terbaik di kawasan Asia. Bersama Yudo Hadianto, Tim Merah Putih disegani pada era 1960 sampai 1970-an. Kendati kini hanya bisa melihat Piala Dunia 2006 dari layar kaca, semangat Yudo untuk kemajuan sepakbola Tanah Air tak lekang. Di usia senjanya, dia masih aktif melatih di Sekolah Sepak Bola Soetjipto Soentoro yang didirikannya bersama Bisma, anak almarhum pemain bola Soetjipto Soentoro.

Dibesarkan dalam keluarga yang gemar sepakbola, Yudo kecil tertarik pada olahraga populer ini sejak belia. Sampai pada akhirnya, Endang Witarsa yang saat itu melatih tim nasional tertarik melihat permainannya dan mengajak Yudo hijrah ke Jakarta. Padahal saat itu Yudo masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Selama beberapa bulan, Yudo harus puas duduk sebagai kiper cadangan di kesebelasan UMS. Namun kejelian Yudo mengantisipasi pergerakan bola dan ketenangannya di lapangan hijau membuat dia terpilih sebagai kiper utama. Akhirnya, pada 1961 Yudo ditarik ke tim nasional. Saat itu umurnya baru menginjak 20 tahun. "Akhirnya Tony Pogaknik menarik saya menjadi pemain timnas," kata pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 19 September 1941.

Saat Yudo bertugas di bawah mistar gawang Merah Putih, timnas disegani lawan. Sejumlah kesebelasan asing yang datang ke Indonesia merasakan kokohnya benteng terakhir kesebelasan Indonesia. Di antaranya adalah Dynamo Moskwa yang hanya menang 1-0 saat bertandang ke Senayan. Tapi kenangan terindah bagi Yudo adalah saat menjajal kemampuan tim Rusia yang diperkuat kiper legendaris Lev Yashin.

Seiring usia, kemampuan kiper bertubuh jangkung-kurus itu memudar hingga akhirnya pensiun dan bekerja di Pertamina atas jasa almarhum Sjarnoebi Said. Tetapi kecintaan suami Veronica Tarek da Costa kepada sepakbola tak luntur begitu saja. Termasuk dengan keprihatinannya dengan kondisi sepakbola Indonesia yang terpuruk. Menurut dia, kurangnya kedisiplinan dalam pembinaan pemain menjadi salah satu penyebab Indonesia tak lagi bisa unjuk gigi. Jangankan di tingkat dunia seperti Piala Dunia 2006, untuk tingkat Asia Tenggara saja Indonesia keteteran. Tetapi dia yakin, suatu hari nanti Indonesia mampu berlaga di kancah internasional. Semoga.

Sumber : liputan6.com


Jumat, 20 Mei 2011

Kurniawan Dwi Yulianto Striker Legenda Indonesia








Kurniawan Dwi Yulianto dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 34 tahun silam. Ia adalah salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Karir gemilang Kurniawan dimulai pada saat dirinya menjadi salah satu pemain Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program Primavera, yakni pengiriman pemain untuk menimba ilmu di Eropa. Kurniawan muda terpilih untuk masuk ke klub elit Italia, Sampdoria pada tahun 1993 silam. Saat itu dirinya berusia 17 tahun.

Aksinya sempat memukau petinggi Sampdoria kala itu, sehingga dirinya menjadi salah satu pemain yang diikutsertakan dalam tur keliling Eropa klub tersebut. Bahkan pemain yang juga akrab disapa ‘kurus’ ini mencetak gol spektakuler saat Sampdoria dijamu klub Slovakia, Slavian Bratislava. Pada saat itu, Sampdoria diperkuat pemain-pemain kelas dunia seperti Roberto Mancini dan David Platt. Kurus menimba ilmunya bersama para bintang sepakbola ini selama 1 tahun.


Kurus semasa membela Sampdoria

Pada tahun 1994, karena bermasalah dengan PSSI, dirinya pindah ke klub papan atas liga Swiss, Luzern FC. Di klub tersebut, Kurus sempat menjadi pilihan utama, namun hasilnya kurang maksimal. Ia hanya mencetak 1 gol dari 10 pertandingan. Akhirnya pada tahun 1996, Kurus kembali ke tanah kelahirannya, Indonesia. Selama 7 tahun, dirinya sempat malang melintang di sejumlah klub, mulai dari Pelita Jaya, PSM Makassar, PSPS Pekanbaru, Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta. Kurus sempat membawa PSM Makassar juara liga dan menjadi top skorer. Juga hampir membawa Pelita Jaya menjadi kampiun sebelum liga dibubarkan karena Reformasi.

Pada akhir tahun 2005, Kurus menandatangani kontrak dengan klub Malaysia, Sarawak FC. Namun hanya setengah musim ia bertahan disana. Kurus gagal menunjukkan ketajamannya di negeri jiran. Pada bulan Mei 2006, ia kembali ke Indonesia. Kembali Kurus berpetualang dari satu klub ke klub lain. Hingga akhirnya pada musim 2010 ia berlabuh di PSMS Medan.

Karir dan prestasi gemilang Kurniawan sempat meredup karena tindakan negatif. Ia pernah tersandung kasus pemakaian narkoba pada tahun 1999. Namun ia berhasil bangkit dari keterpurukan dan kembali mencapai performa puncaknya. Sinar cemerlang Kurniawan di klub yang dibelanya membawanya terpanggil ke timnas Indonesia. Ia membela Merah Putih sejak tahun 1995 hingga 2006, dengan torehan 33 gol. Ia pun mencetak rekor sebagai pemain dengan gol terbanyak di tingkat timnas, hingga digeser oleh juniornya, Bambang Pamungkas. Aksi terakhirnya di timnas pada saat Semifinal Piala Tiger 2006 sangat berkesan. Kurus yang masuk sebagai pemain pengganti menjadi dirigen serangan Indonesia bersama Boaz, Ilham & Elly Aiboy. Di Stadion Bukit Jalil, Malaysia dibantai 4-1.

Kurniawan alias Kurus adalah tipikal striker oportunis. Ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan di kotak 16 meter. Kelincahan dan kecerdikannya membuat lawan yang mengawalnya kerap kepayahan. Kurus pun hingga sekarang masih menyandang predikat sebagai striker paling berbahaya yang pernah dimiliki Indonesia. Bahkan hal tersebut diakui oleh juniornya yang kini menjadi kapten timnas, Bambang Pamungkas.

Namun kecemerlangan Kurniawan di lapangan berbanding terbalik dengan sikapnya di luar lapangan. Ia dikenal sebagai sosok bad boy yang suka melanggar aturan. Dunia malam pun pernah disambanginya selama masih aktif bermain. Pada akhirnya, berkat bantuan orang-orang terdekatnya. Kurus berhasil meninggalkan semua kemaksiatan itu. Tapi watak memang sulit diubah. Kurus kerap bersitegang dengan pelatih klub yang dibelanya. Sebagai contoh, ketika membela Persisam Samarinda pada tahun 2008, ia dipecat karena tindakan indisipliner.


Kini, Kurniawan memang sudah tidak lagi terpilih menjadi anggota timnas Indonesia. Namun ia masih aktif bermain. Pada musim 2010 ISL, ia membela klub papan atas PSMS Medan. Semakin tua, Kurus mengaku dirinya semakin belajar untuk bijak. Ia kini hanya ingin fokus bermain hingga saatnya untuk gantung sepatu tiba.

Diluar sisi negatifnya, Kurus akan tetap menginspirasi para penerusnya untuk menjadi bintang dan legenda sepakbola Indonesia selanjutnya.

Biodata

Nama lengkap : Kurniawan Dwi Yulianto

Nama panggilan : Ade, Kurus

Tempat / tanggal lahir : Magelang, Jawa Tengah / 13 Juli 1976

Posisi : Striker

Status : Menikah (Istri : Kartika Dewi)


Karir Klub

1993-1994 : Sampdoria Primavera (Italia)

1994-1995 : FC Luzern (Swiss)

1996-1999 : Pelita Jaya

1999-2001 : PSM Makassar

2001 : PSPS Pekanbaru

2002-2003 : PSPS Pekanbaru

2004 : Persebaya Surabaya

2005 : Persija Jakarta

2006 : Sarawak FC (Malaysia)

2006 : PSS Sleman

2007 : Persitara

2008-2009 : Persisam Samarinda

2009- 2010: Persela Lamongan

2010-2011 : PSMS Medan

2011 -.... : Tanggerang wolves (LPI)

Timnas

1995-2006 : Indonesia

Sumber : Kaskus .us


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More